Senin, 22 April 2013

Tentang Unas


Tentang Unas
            Ujian nasional yang selama ini sudah berjalan dengan segala pro dan kontra yang membalutnya, ujian nasional yang sebagian berjalan dengan hasil yang cukup memuaskan bagi para siswa siswi maupun sekolah namun sebagian juga meninggalkan isak tangis bagi yang gagal. Selama ini ujian nasional di anggap sebagai tolak ukur dari kecerdasan siswa siswi yang menjalankan pendidikan selama bertahun-tahun, namun saya rasa salah. Ujian nasional tidak dapat di jadikan patokan untuk mengukur kemampuan siswa siswi pada sebuah tingkat pendidikan, karna saya yakin sekecil apapun tingkat kecurangan itu pasti terjadi dalam ujian nasional.
Lalu, apakah adil ketika jerih payah belajar dan menempuh pendidikan selama tiga tahun bahkan enam tahun hanya di ukur dengan tiga atau empat hari bahkan beberapa jam dengan ujian nasional, bisa saja dalam tiga atau empat hari tersebut siswa sedang mengalami sakit atau selesai menjalani oprasi atau apapun yang dapat menurunkan konsentrasi nya. Menurut saya unas adalah momok yang sangat menegangkan dan sungguh tidak di sukai oleh siswa ataupun sekolah. Bagaimana tidak siswa harus mempertaruhkan nama baiknya dan keluarganya untuk unas, sekolah pun demikian harus mempertaruhkan kredibilitas yang selama ini di bangun dengan susah payah hanya untuk beberapa jam ujian nasional, rasanya ini tidak adil bukan.
Saya menganggap unas sebaiknya tidak di jalan kan, atau mungkin di jalankan namun dengan cara-cara yang baru dan lebih berbobot bukan hanya di lakukan dengan selembar kertas karna kertas-kertas tersebut tidak selalu berdampak positif kepada lulusan yang ada malah banyak juga yang memunculkan dampak negatif seperti beredarnya joki soal yang mematok harga mahal ataupun siswa yang sampai stres memikirkan unas. Sementara hasil yang di dapatkan juga tidak fair. banyak saya temui dalam beberapa penelitian saya tentang unas bahwasannya tidak selalu anak yang pandai mendapat nilai yang bagus, bahkan banyak juga anak yang tidak begitu pandai mendapatkan nilai yang memuaskan karna mungkin banyak relasi yang membantunya untuk mengumpulkan jawaban-jawaban. Dari sisni saya dapat menyimpulkan bahwa unas tidak dapat di jadikan sebagai tolak ukur keberhasilan seorang siswa dalam sebuah tingkat pendidikan.
Memnurut diskusi kecil yang saya lakukan bersama teman-teman di kampus menghasilkan sebuah masukan bawasanya sebagai alat untuk tolak ukur keberhasilan siswa sebuah jenjang pendidikan misalnya untuk siswa SMA bukan hanya dengan di adakannya ujian nasional. Dalam hal ini menteri pendidikan sudah di mudahkan dengan adanya sekolah kejuruan. dari sini muncul ide kenapa unas tidak di gantikan dengan di gagasnya sebuah proyek pembuatan produk seperti halnya siswa SMA di haruskan untuk membuat sebuah tulisan atau karya tulis atau mungkin sebuah peneliatian ilmiah yang dapat memunculkan penemuan-penemuan baru. Dan kemudian dari sini akan muncul sebuah produk baru, saya ambil contoh saja dulu di tempat saya SMA ada penemuan mengenai Botok Krokot yang di buat dari tanaman krokot dan memiliki gizi yang cukup besar. Saat itu mungkin Cuma satu siswa yang bisa melakukan itu tapi apakah tidak lebih baik jika semua siswa mampu memberi kontribusi untuk penemuan-penemuan baru. Atau untuk SMK seperti SMK farmasi di haruskan untuk bisa membuat atau memperbaiki obat-obatan yang sudah ada atau menciptakan obat baru. Dengan begini prestasi indonesia juga akan membaik karna menghasilkan lulusan-lulusan yang kreatif dalam bidangnya selanjutnya produk yang di hasilkan ini juga dapat di uji kembali oleh para ahli, ketika produk ini bagus indonesia bisa memperkenalkan ke dunia luar.
Tidak hanya itu siswa yang menguji kemampuan-nya dengan selembar soal unas, saya yakin dia tidak akan mengerjakan soal tersebut sendirian pasti ada pihak-pihak lain yang berperan sebagai pendukung dari proses pengerjaan nya tersebut, lalu siapakah pihak-pihak pendukung tersebut. Tidak lain tentu sekolah sangat berperan, sebuah sekolah yang merasa nama baik nya akan terancam jika tidak membantu siswanya tentu akan melakukan apapun untuk membantu ujian nasional siswa-siswinya dan semua siswanya tentu juga akan menjalankan apa yang di minta oleh pihak sekolah, ini merupakan bukti bahwa siswa-siswi tersebut karakter dan pemikirannya akan di jalankan oleh sekolah dan kebiasaan demikian akan terus berjalan sampai saat ketika mereka lulus nanti, mereka aku mengikuti arahan dari atasan tanpa menumbuhkan keinginan unntuk mengembangkan kretifitasnya. Mereka hanya akan menjadi buruh yang di bayar dengan upah murah, dan lagi-lagi pendidikan di indonesia hanya akan menghasilkan buruh-buruh yang di bayar dengan upah murah. Namun bisa di bayangkan ketika gagasan yang saya kemukakan di atas di pakai siswa-siswi yang melewati ujian nasional dengan cara memberikan penemuan-penemuan baru atau produk-produk baru, mereka pasti akan terus berusaha untuk mengembangkan gagasan mereka yang dalam hal ini adalah produk yang mereka buat dalam bentuk usaha-usaha kecil, dan mereka akan lulus dan terjun dalam masyarakat sebagai wirausaha bukan buruh.
Jika setiap sekolah mau menerapkan sistem pendidikan yang demilkian maka indonesia di tahun 2030 akan di penuhi dengan interprenour dalam negri yang mungkin saja bisa membawa kemajuan untuk indonesia di tahun-tahun mendatang, bukan hanya menghasilkan buruh murah yang di peralat oleh pemodal luar di tanah sendiri dan kekayaan alam sendiri. Kita perlu ingat indonesia adalah negeri yang kaya akan apapun mulai dari tanah, air, sumber daya dan masih banyak lagi. Itu yang perlu kita catat dan kita tanamkan supaya generasi berikutnya lahir dengan penuh percaya diri untuk merubah indonesia. Dan tentu hal ini harus di awali dengan hal yang sederhana seperti pengasaan kreatifitas dan kemampuan berusaha bukan hanya pasrah menerima jawaban dari guru ataupun sekolah, apa jadinya indonesia 10 tahun kemudian jika unas masih merupakan ajang untuk menunggu dan mengemis jawaban.
Bagi saya percuma kalau pemerintah membuat aturan unas berpaket yang awalnya dua paket kemudiandi ganti menjadi empat paket lalu lima paket dan karna masih terdeteksi kecurangan di rubah lagi menjadi sepuluh paket dan kemudian saat ini menjadi dua puluh paket.kenapa harus ada seperti ini, apa pemerintah tidak percaya dengan kemampuan anak bangsa? Sampai berapapun pemerintah menambah jumlah paket saya yakin kalau unas akan tetap begitu-begitu saja, kenapa? Karna pertaruhan unas yang saya rasa tidak manusiawi ini akan tetap memacu siswa ataupun sekolah untuk berusaha semaksimal mungkin melancarkan dan menciptakan hasil sesuai keinginan, ini justru menjadi ladang usaha bagi para joki jawaban karna semakin banyak jumlah paket maka semakin mahal mereka mematok harga. Dan akibatnya seperti yang di kemukakan di atas, unas hanyalah ajang untuk menunggu dan mengemis jawaban. Bukan proses berfikir kreatif untuk menumbuhkan dan mengembangkan pola pemikiran para siswa di indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar