Tentang Unas
Ujian
nasional yang selama ini sudah berjalan dengan segala pro dan kontra yang
membalutnya, ujian nasional yang sebagian berjalan dengan hasil yang cukup
memuaskan bagi para siswa siswi maupun sekolah namun sebagian juga meninggalkan
isak tangis bagi yang gagal. Selama ini ujian nasional di anggap sebagai tolak
ukur dari kecerdasan siswa siswi yang menjalankan pendidikan selama bertahun-tahun,
namun saya rasa salah. Ujian nasional tidak dapat di jadikan patokan untuk
mengukur kemampuan siswa siswi pada sebuah tingkat pendidikan, karna saya yakin
sekecil apapun tingkat kecurangan itu pasti terjadi dalam ujian nasional.
Lalu, apakah adil
ketika jerih payah belajar dan menempuh pendidikan selama tiga tahun bahkan
enam tahun hanya di ukur dengan tiga atau empat hari bahkan beberapa jam dengan
ujian nasional, bisa saja dalam tiga atau empat hari tersebut siswa sedang
mengalami sakit atau selesai menjalani oprasi atau apapun yang dapat menurunkan
konsentrasi nya. Menurut saya unas adalah momok yang sangat menegangkan dan
sungguh tidak di sukai oleh siswa ataupun sekolah. Bagaimana tidak siswa harus
mempertaruhkan nama baiknya dan keluarganya untuk unas, sekolah pun demikian
harus mempertaruhkan kredibilitas yang selama ini di bangun dengan susah payah
hanya untuk beberapa jam ujian nasional, rasanya ini tidak adil bukan.
Saya menganggap unas
sebaiknya tidak di jalan kan, atau mungkin di jalankan namun dengan cara-cara
yang baru dan lebih berbobot bukan hanya di lakukan dengan selembar kertas
karna kertas-kertas tersebut tidak selalu berdampak positif kepada lulusan yang
ada malah banyak juga yang memunculkan dampak negatif seperti beredarnya joki
soal yang mematok harga mahal ataupun siswa yang sampai stres memikirkan unas.
Sementara hasil yang di dapatkan juga tidak fair.
banyak saya temui dalam beberapa penelitian saya tentang unas bahwasannya tidak
selalu anak yang pandai mendapat nilai yang bagus, bahkan banyak juga anak yang
tidak begitu pandai mendapatkan nilai yang memuaskan karna mungkin banyak
relasi yang membantunya untuk mengumpulkan jawaban-jawaban. Dari sisni saya
dapat menyimpulkan bahwa unas tidak dapat di jadikan sebagai tolak ukur
keberhasilan seorang siswa dalam sebuah tingkat pendidikan.
Memnurut diskusi kecil yang
saya lakukan bersama teman-teman di kampus menghasilkan sebuah masukan bawasanya
sebagai alat untuk tolak ukur keberhasilan siswa sebuah jenjang pendidikan
misalnya untuk siswa SMA bukan hanya dengan di adakannya ujian nasional. Dalam
hal ini menteri pendidikan sudah di mudahkan dengan adanya sekolah kejuruan.
dari sini muncul ide kenapa unas tidak di gantikan dengan di gagasnya sebuah
proyek pembuatan produk seperti halnya siswa SMA di haruskan untuk membuat
sebuah tulisan atau karya tulis atau mungkin sebuah peneliatian ilmiah yang
dapat memunculkan penemuan-penemuan baru. Dan kemudian dari sini akan muncul
sebuah produk baru, saya ambil contoh saja dulu di tempat saya SMA ada penemuan
mengenai Botok Krokot yang di buat dari tanaman krokot dan memiliki gizi yang
cukup besar. Saat itu mungkin Cuma satu siswa yang bisa melakukan itu tapi
apakah tidak lebih baik jika semua siswa mampu memberi kontribusi untuk
penemuan-penemuan baru. Atau untuk SMK seperti SMK farmasi di haruskan untuk
bisa membuat atau memperbaiki obat-obatan yang sudah ada atau menciptakan obat
baru. Dengan begini prestasi indonesia juga akan membaik karna menghasilkan
lulusan-lulusan yang kreatif dalam bidangnya selanjutnya produk yang di
hasilkan ini juga dapat di uji kembali oleh para ahli, ketika produk ini bagus
indonesia bisa memperkenalkan ke dunia luar.
Tidak hanya itu siswa
yang menguji kemampuan-nya dengan selembar soal unas, saya yakin dia tidak akan
mengerjakan soal tersebut sendirian pasti ada pihak-pihak lain yang berperan
sebagai pendukung dari proses pengerjaan nya tersebut, lalu siapakah pihak-pihak
pendukung tersebut. Tidak lain tentu sekolah sangat berperan, sebuah sekolah
yang merasa nama baik nya akan terancam jika tidak membantu siswanya tentu akan
melakukan apapun untuk membantu ujian nasional siswa-siswinya dan semua siswanya
tentu juga akan menjalankan apa yang di minta oleh pihak sekolah, ini merupakan
bukti bahwa siswa-siswi tersebut karakter dan pemikirannya akan di jalankan
oleh sekolah dan kebiasaan demikian akan terus berjalan sampai saat ketika
mereka lulus nanti, mereka aku mengikuti arahan dari atasan tanpa menumbuhkan
keinginan unntuk mengembangkan kretifitasnya. Mereka hanya akan menjadi buruh
yang di bayar dengan upah murah, dan lagi-lagi pendidikan di indonesia hanya
akan menghasilkan buruh-buruh yang di bayar dengan upah murah. Namun bisa di
bayangkan ketika gagasan yang saya kemukakan di atas di pakai siswa-siswi yang
melewati ujian nasional dengan cara memberikan penemuan-penemuan baru atau
produk-produk baru, mereka pasti akan terus berusaha untuk mengembangkan gagasan
mereka yang dalam hal ini adalah produk yang mereka buat dalam bentuk usaha-usaha
kecil, dan mereka akan lulus dan terjun dalam masyarakat sebagai wirausaha
bukan buruh.
Jika setiap sekolah mau
menerapkan sistem pendidikan yang demilkian maka indonesia di tahun 2030 akan
di penuhi dengan interprenour dalam
negri yang mungkin saja bisa membawa kemajuan untuk indonesia di tahun-tahun
mendatang, bukan hanya menghasilkan buruh murah yang di peralat oleh pemodal
luar di tanah sendiri dan kekayaan alam sendiri. Kita perlu ingat indonesia
adalah negeri yang kaya akan apapun mulai dari tanah, air, sumber daya dan
masih banyak lagi. Itu yang perlu kita catat dan kita tanamkan supaya generasi
berikutnya lahir dengan penuh percaya diri untuk merubah indonesia. Dan tentu
hal ini harus di awali dengan hal yang sederhana seperti pengasaan kreatifitas
dan kemampuan berusaha bukan hanya pasrah menerima jawaban dari guru ataupun
sekolah, apa jadinya indonesia 10 tahun kemudian jika unas masih merupakan
ajang untuk menunggu dan mengemis jawaban.
Bagi saya percuma kalau
pemerintah membuat aturan unas berpaket yang awalnya dua paket kemudiandi ganti
menjadi empat paket lalu lima paket dan karna masih terdeteksi kecurangan di
rubah lagi menjadi sepuluh paket dan kemudian saat ini menjadi dua puluh paket.kenapa
harus ada seperti ini, apa pemerintah tidak percaya dengan kemampuan anak
bangsa? Sampai berapapun pemerintah menambah jumlah paket saya yakin kalau unas
akan tetap begitu-begitu saja, kenapa? Karna pertaruhan unas yang saya rasa
tidak manusiawi ini akan tetap memacu siswa ataupun sekolah untuk berusaha
semaksimal mungkin melancarkan dan menciptakan hasil sesuai keinginan, ini
justru menjadi ladang usaha bagi para joki jawaban karna semakin banyak jumlah
paket maka semakin mahal mereka mematok harga. Dan akibatnya seperti yang di
kemukakan di atas, unas hanyalah ajang untuk menunggu dan mengemis jawaban. Bukan
proses berfikir kreatif untuk menumbuhkan dan mengembangkan pola pemikiran para
siswa di indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar